Microthiol 80 - Nufarm Indonesia

SIFAT KIMIA DAN FISIKA

Nama Kimia
:
Sulfur
Rumus Empiris
:
S
Berat Molekul
:
32.1
Warna
:
Butiran bewarna coklat muda
Berat Jenis
:
1.79 pada suhu 20 C
Bahan Aktif
:
Sulfur 80%
pH
:
7
Kepadatan tpg
:
0.91 mg/m
Ukuran Partikel
:
150 microgranular
Flammabilitas
:
Tidak mudah terbakar
Explosivitas
:
Tidak mudah meledak

MICROTHIOL 80 WG merupakan fungisida kontak berbentuk butiran yang dapat didispersikan dalam air, untuk mengendalikan penyakit pada tanaman cabai dan jeruk.

KEUNGGULAN PRODUK :


  • Sangat efektif untuk mengendalikan penyakit embun tepung (Powdery mildew) pada tanaman cabai dan jeruk.
  • Bersifat kontak dan protektan, dapat melindungi tanaman dari serangan penyakit.
  • Soil improvement : pada tanah yang bersifat basa, dapat meningkatkan keasaman tanah menjadi netral.
  • Aplikasi pada buah-buahan seperti apel, jeruk, dan lain-lain dapat menjadikan permukaan kulit buah mulus dan bersih, dan dapat meningkatkan umur simpan buah.
  • Dapat diaplikasikan setelah prunning pada apel atau jeruk, sehingga menjaga tanaman dari serangan jamur.
  • Satu aksi bekerja secara multisite : memblok proses respirasi sel, menghambat sintesa asam nukleat, menghambat sintesa protein.
  • Mempunyai tiga aksi : preventif, kuratif dan eradikatif. Dapat diaplikasikan pada berbagai fase serangan penyakit.
  • Diformulasi secara spesial sehingga terdispersi tiga kali
  • Lebih cepat dibandingkan dengan formulasi WG biasa.

REKOMENDASI PENGGUNAAN


Tanaman &
Organisme Sasaran/Target

Dosis/Konsentrasi
Waktu Penyemprotan
Cabai
Penyakit embun tepung :
Laveillula taurica
Antraknosa :
Colletotrichum spp.
Bercak daun :
Cercospora capsici

Jeruk
Penyakit kulit :
Diplodia sp.

Penyakit embun tepung :
Oidium tingitanium
Penyakit blendok :
Phytoptora sp.
Tungau :
Tetranychus sp.

.
1-2 g/l

1.5-3 g/l

2-3 g/l dengan penyemprotan
volume tinggi

2.5-5 g/l g/l

0.75-1.5 g/l

2.5-5 g/l

6 g/l dengan penyemprotan
volume tinggi


Segera setelah tanaman berumur 1-2 minggu atau setelah penyakit ditemukan





Segera setelah penyakit ditemukan dengan cara pengecatan/pelaburan Segera setelah penyakit ditemukan dengan cara penyemprotan





Segera setelah hama sasaran ditemukan dengan cara penyemprotan